Oleh: Deden Yasin (Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat – MUI Kab. Purwakarta)
Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, banyak dari kita beranggapan sederhana: kalau seseorang beragama, berarti ia pasti bertuhan.
Nyatanya, tidak selalu begitu. Beragama dan bertuhan memang sering berjalan beriringan, tapi keduanya tidak identik.
Beragama biasanya berkaitan dengan menjalankan ajaran, ritual, dan aturan yang diwariskan agama.
Sementara bertuhan adalah urusan hati—hubungan pribadi yang hangat, sadar, dan terus-menerus dengan Sang Pencipta.
Ada orang yang rajin ibadah, fasih menyampaikan nasihat agama, bahkan aktif di berbagai kegiatan keagamaan.
Namun, kalau kita tanya lebih dalam, mungkin ia tak pernah benar-benar merasa dekat dengan Tuhannya. Ibadahnya berjalan, tapi hatinya sepi.
Ini bukan berarti ia tidak baik, hanya saja ibadahnya mungkin baru sebatas kebiasaan, belum menjadi perjumpaan yang hidup dengan Tuhan.
Di sisi lain, ada orang yang tidak memeluk agama tertentu, namun hatinya penuh keyakinan akan keberadaan Tuhan.
Ia bersyukur, berdoa, dan merasakan bimbingan dari Yang Maha Kuasa. Namun, dari sudut pandang Islam, agama adalah kompas yang memberi arah.
Keyakinan tanpa kompas berisiko membuat kita tersesat di tengah jalan.
Bertuhan sejati adalah perjalanan. Dalam Islam, perjalanan ini dimulai dari mencari dan mengenal-Nya, seperti Nabi Ibrahim Alaihissalam yang bertanya-tanya tentang siapa Tuhannya, hingga akhirnya mendapat jawaban.
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan cara mengingat Allah setiap saat—bukan sekadar di mulut, tapi di hati yang tenang.
Caranya adalah dengan mempelajari Ilmu Tauhid untuk mengenal perbuatan, nama, sifat, dan dzat Allah; menapaki tarekat agar hati terbiasa mengingat-Nya; serta mengamalkan semuanya dengan ikhlas dan sabar sampai hati benar-benar mengenal siapa diri kita dan siapa Tuhan kita.
Di alam ruh, sebelum kita lahir, Allah bertanya: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan kita semua menjawab: “Betul, kami bersaksi.” Bertuhan sejati adalah kembali pada momen itu—sadar penuh bahwa kita berasal dari-Nya dan akan pulang kepada-Nya.
Inilah makna dari Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Agama adalah jalan, Tuhan adalah tujuan.
Beragama tanpa bertuhan seperti berjalan di jalan raya tanpa pernah sampai. Bertuhan tanpa agama seperti berjalan tanpa peta.
Yang kita butuhkan adalah keduanya: melangkah di jalan agama sambil merawat hubungan mesra dengan Tuhan.
Karena pada akhirnya, yang paling kita rindukan bukanlah sekadar surga, tapi perjumpaan dengan Dia yang menciptakan surga.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
KOIN NU PURWAKARTA
Scan QR Code di bawah atau klik tombol "Donasi Sekarang" untuk memberikan Koin NU via DANA.
Donasi Sekarang
Terima kasih atas dukungan Anda!
Disclaimer: Koin NU ini dikelola oleh PCNU Purwakarta.







Tinggalkan Balasan