Oleh KH. Anhar Haryadi
Setiap orang mendambakan kesuksesan. Ada yang mengejarnya lewat harta, jabatan, atau popularitas. Namun bagi seorang muslim, kesuksesan sejati bukan hanya soal dunia, tapi juga keselamatan di akhirat. Kunci untuk meraihnya bukan semata kerja keras, melainkan konsistensi dalam ketaatan kepada Allah SWT, yang dikenal dengan istilah istiqomah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering semangat beribadah di awal, lalu melemah di tengah jalan. Sholat sunnah rajin dikerjakan saat awal hijrah, dzikir semangat di hari pertama, tapi perlahan hilang seiring kesibukan dunia. Di sinilah istiqomah diuji. Bukan siapa yang paling banyak amalnya dalam sehari, tapi siapa yang paling konsisten menjaga ibadah hingga akhir hayatnya.
Istiqomah bukan berarti tanpa godaan dan kesulitan. Justru di sanalah nilainya. Seorang yang mampu menjaga ibadahnya walau sedikit, namun berkelanjutan, jauh lebih mulia daripada yang melakukan amalan besar tapi hanya sekali. Inilah rahasia mengapa istiqomah disebut sebagai jalan menuju kesuksesan dunia sekaligus keselamatan akhirat.
Ada sebuah ungkapan ulama yang sangat masyhur:
اَلِاسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ
Al-Istiqāmah khairun min alfi karāmah.
Artinya:
“Istiqamah lebih baik daripada seribu karomah.”
Ungkapan ini mengandung pesan mendalam: konsistensi dalam ketaatan kepada Allah, meskipun kecil, lebih mulia daripada mendapatkan berbagai karomah atau kejadian luar biasa. Istiqomah adalah kunci utama meraih kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Aḥabbul a‘māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla.
Artinya:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara istiqomah, walaupun sedikit.” (HR. Muslim)
Artinya, meski amalan sederhana-seperti membaca satu halaman Al-Qur’an per hari, berdzikir pagi-petang, atau rutin sholat sunnah—jika dilakukan terus-menerus, maka lebih disukai Allah daripada amalan besar yang hanya sesekali dilakukan.
Makna Istiqomah Menurut Para Sahabat dan Ulama
Sahabat Nabi yang terkenal dengan keimanannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu, pernah ditanya tentang makna istiqomah. Beliau menjawab:
اَلِاسْتِقَامَةُ هِيَ أَنْ لَا تُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا
Al-istiqāmah hiya an lā tusyrika billāhi syai’ā.
Artinya:
“Istiqomah adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”
Para ulama pun menekankan betapa agungnya istiqomah. Dalam Hilyatul Auliya’ disebutkan, Wahb bin Munabbih pernah menegur seseorang yang kagum pada ahli ibadah yang meninggalkan dunia. Beliau berkata:
“Jangan kagum pada orang yang meninggalkan dunia. Kagumlah pada orang yang mampu istiqomah.” (Hilyatul Auliya’, 4:51)
Bahkan, ulama besar Muhammad bin Al-Munkadar berkata:
كابدت نفسي أربعين سنة حتى استقامت
“Aku berjuang melawan diriku selama 40 tahun hingga akhirnya bisa istiqomah.” (Hilyatul Auliya’, 3:146)
Ketika Ibnul Mubarok ditanya bagaimana cara seseorang meraih kemuliaan, beliau menjawab singkat:
بالاستقامة
“Dengan istiqomah.” (Hilyatul Auliya’, 3:40)
Istiqomah Hingga Akhir Hayat
Istiqomah bukan hanya untuk sesaat, tapi harus terus dijaga hingga akhir hayat. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqomah…”(QS. Fushshilat: 30)
Mujahid menafsirkan ayat ini:
فلم يشركوا حتى ماتوا
“Mereka tidak berbuat syirik sampai mati.” (Hilyatul Auliya’, 3:300)
Betapa beratnya istiqomah, namun inilah jalan keselamatan dunia dan akhirat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keistiqomahan dalam ilmu, amal, dan dakwah. Aamiin.
KOIN NU PURWAKARTA
Scan QR Code di bawah atau klik tombol "Donasi Sekarang" untuk memberikan Koin NU via DANA.
Donasi Sekarang
Terima kasih atas dukungan Anda!
Disclaimer: Koin NU ini dikelola oleh PCNU Purwakarta.







Tinggalkan Balasan