Senada dengan hal itu, KH. Ii Syafe’i Nurzaman, Katib Syuriah PCNU, menambahkan bahwa NU dibentuk oleh para ulama sebagai pewaris para nabi (Al-ulama warosatul anbiya) untuk melanjutkan tugas tabligh (menyampaikan) dan riayah (mengasuh) umat.
Menurutnya, meski ulama memiliki kekuatan yang berbeda dengan para nabi, tugas mereka tetap sama, yaitu menjaga umat dengan cara yang terhormat.
“Tugasnya adalah melaksanakan tabligh dan riayah. Tabligh menyampaikan dengan cara-cara yang terhormat dan mengasuh (riayah) umat itu tugas ulama,” jelas KH. Ii Syafe’i.
Lebih lanjut, H. Budi juga mengutip pesan dari Ketua Umum PBNU bahwa tugas ulama tidak hanya teknis, tetapi juga terkait dengan wadzifah, yaitu amalan yang mengandung roh jihad di jalan Allah.
Ia juga menyinggung sikap politik NU yang dinamis, di mana organisasi ini pernah bertransformasi menjadi partai politik karena tuntutan zaman, namun kembali ke khittah ketika partai politik tidak lagi sejalan dengan tugas keulamaan.
“NU pernah menjadi partai politik karena tuntutan zaman, pada waktu itu bahwa pilihan yang terbaik adalah melibatkan diri dalam politik sebagai partai politik, itu dilakukan,” ujar Budi.
Pembedanya adalah roh amalan dari NU itu tidak berubah meski pernah menjadi partai politik, karena yang dilakukan adalah penyesuaian dengan tugas dan tanggung jawab keulamaan sehingga ketika tidak berpolitik, NU tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purwakarta saat melaksanakan kunjungan konsolidasi ke MWCNU Kecamatan Pondoksalam, Purwakarta.
Baca Juga : Al Muhajirin Purwakarta Raih Dua Penghargaan Bergengsi ‘Academic Leader’
KOIN NU PURWAKARTA
Scan QR Code di bawah atau klik tombol "Donasi Sekarang" untuk memberikan Koin NU via DANA.
Donasi Sekarang
Terima kasih atas dukungan Anda!
Disclaimer: Koin NU ini dikelola oleh PCNU Purwakarta.







Tinggalkan Balasan