Menu

Mode Gelap

Opini ¡¤ 25 Sep 2024 13:00 WIB

Apa Itu Thariqoh?

KH. Anhar Haryadi - Pengasuh Pondok Pesantren Manba'ul Ulum Wanayasa Perbesar

KH. Anhar Haryadi - Pengasuh Pondok Pesantren Manba'ul Ulum Wanayasa

Oleh: KH. Anhar Haryadi (Pengasuh Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Wanayasa-Purwakarta)

nupurwakarta.or.id – Thariqah adalah jalan menuju Allah Swt. Thariqah merupakan buah dari syariat, oleh karena itu thariqah tidak bisa lepas dari syariat. Semua thariqah yang mu’tabarah ada gurunya masing-masing dan mempunyai sumber yang sama, yaitu Baginda Nabi saw, melalui jalur beberapa Sahabat, diantaranya Sayyidina Abubakar ash-Shiddiq Sayyidina Umar bin Khaththab ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Sayyidina Anas ra, Sayyidina Salman al-Farisi ra. Karena itu, tidak mungkin thariqah yang mu’tabarah itu sesat atau lepas dari Ajaran Islam.

Baca Juga : Agar Dicintai Allah

Tapi, untuk meringankan beban umatnya, Baginda Rasulullah saw mengajarkan bermacam-macam cara berdzikir kepada para Sahabat sesuai dengan kemampuan mereka. Misalkan, ada yang mampu berdzikir dalam hitungan puluhan, maka disediakanlah pintunya. Sedangkan bagi yang mampu hingga hitungan ribuan, juga disediakan pintunya, Tapi. semua dzikir itu berdasarkan ayat ala bidzikrillahi tatmainul qulub’ (berdzikir itu akan menenangkan hati) inilah firman Allah swt yang memerintahkan kita untuk memperbanyak dzikir. Sementara inti dari dzikir-dzikir tersebut sama, yaitu supaya umat Islam tidak lalai kepada Allah swt.

Sekarang ini ada bermacam-macam thariqah dan semuanya mempunyai peraturan yang berasal dari Baginda Nabi saw sendiri. Inti dari semua thariqah tersebut adalah dzikir La ilaha illallah Muhammad rasulullah dan dzikir sirrnya, yaitu Allah, Allah, Allah atau Hu, Hu, Hu, (Dia, Dia, Dia), serta dzikir lain yang terkait dengan mentauhidkan Allah swt). Dzikir dalam thariqah tersebut bukan sekadar bacaan untuk mencari pahala, tetapi meraih buahnya, yaitu selalu mengingat Allah swt. Buah ini akan mewarnai kehidupan individu atau pribadi yang menjalankan thariqah tersebut.

Diumpamakan, tapi perumpamaan ini bukan berarti membandingkan kalimah La ilaha illallah dengan dunia, melainkan untuk mempermudah kita dalam memahami. Seseorang yang mempunyai cincin yang dihiasi batu permata yang tiada ternilai harganya, maka cincin itu akan dijaganya baik-baik. Ketika hendak makan saja, cincin itu disimpannya dikantung khusus agar tidak kotor atau terjatuh. Nah itu baru batu. Lalu bagaimana dengan kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah, yang nilainya tidak bisa kita takar sendiri cincin bertatahkan batu permata tersebut?

Baca Juga : Pentingnya Silaturahmi dalam Menjaga Harmoni Sosial dan Spiritualitas

Kalimah tahlil ini mesti mengiringi dan mewarnai kita saat kita makan. Maksudnya, nasi yang kita makan sekadar sebagai sarana mencari kenyang, sementara yang memberikan rasa kenyang hanyalah Allah swt. Jadi, kita akan selalu ingat bahwa tiada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah swt dan kita juga akan selalu ingat akan perintah dan larangan-Nya. Kita akan merasa didengarkan dilihat oleh Allah swt. Apabila sudah demikian, mungkinkah kita akan banyak me lakukan hal tidak disukai Allah swt dan Rasul-Nya?

Tentu saja tidak. Ketika kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya pun kita kembalikan kepada Allah swt. Sehingga muncullah keikhlasan dalam setiap perilaku kita. Nah, inilah pengertian thariqah. Jadi, bukan hanya untuk mencari pahala atau pendekatan diri kepada Allah swt di waktu mengamalkan. Akan tetapi, mampukah kita membawa buah dari kalimat tahlil ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Keistimewaan kalimat tahlil dalam setiap thariqah itu berbeda beda. Seperti keistimewaan tumbuh-tumbuhan yang diciptakan Allah swt Misalnya daun kumis kucing berkhasiat bagi orang yang kena penyakit kencing batu. Ada juga daun delima atau keci beling dan sebagainya. Tumbuhan itu diberi kelebihan masing-masing oleh Allah swt.

Baca Juga : Hati: Pemimpin Tubuh yang Menentukan Kebaikan dan Keburukan Manusia

 

KOIN NU PURWAKARTA

Scan QR Code di bawah atau klik tombol "Donasi Sekarang" untuk memberikan Koin NU via DANA.

QR Code Koin NU via DANA
Donasi Sekarang

Terima kasih atas dukungan Anda!

Disclaimer: Koin NU ini dikelola oleh PCNU Purwakarta.

Artikel ini telah dibaca 65 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Kasus Keracunan di Program MBG, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

25 September 2025 - 12:43 WIB

[OPINI] Gus Yaqut, KPK, dan Nama PBNU yang Disebut-sebut

20 September 2025 - 19:36 WIB

[OPINI] IPNU Purwakarta: Pemimpin Baru yang Hanya Jadi Wayang

14 September 2025 - 15:47 WIB

Menguji Demokrasi Indonesia Pasca Reshuffle Kabinet

10 September 2025 - 09:43 WIB

Gusmun: Jangan Jadi Kompor di Tengah Api, Dai Harus Jadi Air yang Menyejukkan

8 September 2025 - 16:03 WIB

Masyarakat dan Polisi: Dua Korban dalam Tata Kelola Negara yang Ugal-ugalan

30 Agustus 2025 - 08:47 WIB

Trending di Opini